Belajar Nyetir

Salah satu resolusi tahun ini adalah bisa mengemudi. Untuk mewujudkannya aku mendaftarkan diri di tempat kursus mobil yang letaknya tidak jauh dari kediamanku. Lumayan menguras tabungan juga ternyata kursus yang satu ini.

Kali pertama mengemudi, hari minggu yang lalu, aku kira kami hanya perkenalan bagian-bagian mobil dan hanya berkeliling komplek saja. TERNYATA instruktur hanya mengenalkan fungsi-fungsi dasar mengemudi yang harus aku fahami kemudian menginstruksikan untuk melaju djalanan yang padat. Tanganku basah oleh keringat karena tegang padahal AC mobil menyorot ke arahku. Satu jam berlalu dengan cepat. Alhamdulillaah sukses.

Nah hari kedua dan ketiga pun berjalan dengan lancar, hanya aku perlu menajamkan perasaan dan pandai mengira-ngira apakah aku sudah dijalur yang tepat tau belum. Yang membuatku kesulitan adalah ketika harus belok, terutama ditikungan 180 derajat. Kemringet deh. Ternyata mengemudi itu gampang-gampang susah. Jika kondisi jalan lurus dan lengang sudah pasti mudah, begitu masuk ke wilayah padat dan jalanan sempit nan berliku, ribet dah.

Satu kesan pertama latihan nyetir. Kaki pegal menahan kopling dan rem. Tapi asyik kok… Semangat tuti… kamu bisaaa

Kegiatanku

Akhir tahun sudah didepan mata, pertanda seluruh rangkaian pendidikan telah dan atau akan segera usai. Saat inilah waktunya para gadik untuk cooling down setelah sepanjang tahun sibuk mengajar dan belajar.

Tahun ini merupakan tahun yang penuh kegiatan untuk ku. Dari awal tahun sampai akhir tahun ini aku tak lepas dari kegiatan mengajar dan belajar. Dimulai dengan mengajar KIBI dan kemudian setelah berselang dua minggu disusul dengan KIBA. Baru sebulan berlangsung KIBI dan KIBA, aku mendapatkan surat perintah untuk mengajar KIBI wilayah Nusra selama 4 bulan.

Sepulang dari Bali, sempat beristirahat 3 hari langsung mendapat perintah untuk mengajar privat, baru berlangsung 2x, sprin yg baru tiba dimejaku untuk mengikuti TOT Teknik Mengajar Bahasa Asing. Alhamdulillah, walau sudah tidak punya siswa, tetapi kegiatan masih padat.

Sekarang, seluruh rangkaian kegiatan sudah usai. Mungkin akan ada pertandingan-pertandingan olah raga dalam acara HUT Badiklat. Aku berharap akan ada kegiatan refreshing lainnya agar kemampuan mengajar tetap terjaga bahkan bertambah. Aku suka tetap sibuk agar otakku tetap terasah, tetap berfikir dan tidak menjadi beku.

Tiada Seindah Rumah

Siapa tak tahu Bali. Siapa tak tahu Bali dikenal dengan julukan kota seribu dewa. Nama Bali lebih terkenal dari pada negara Indonesia itu sendiri. Memang Bali memiliki sejuta pesona yang mampu menyihir kita untuk datang ke kota ini. Kota yang cocok bagi jiwa-jiwa yang lelah bekerja dan membutuhkan ketenangan untuk sekedar melepas penat yang ada. Bali juga memanjakan para pujangga dan artis untuk berkarya.

Berlibur dan tinggal di Bali adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Amatlah menyenangkan berlibur di Bali, karena banyak tempat menarik dan romantis yang dapat dikunjungi. Kontrasnya, tinggal di Bali dapat menjadi bencana bagi orang  yang tidak memiliki kendaraan, karena sistem transportasi yang sungguh buruk disini.

Seminggu terasa sewindu mungkin merupakan ungkapan yang cocok untukku saat ini. Dengan karakter diri yang kurang suka bergantung pada orang lain, ketidaktersediaannya kendaraan serta buruknya transpotasi membuatku merasa terisolir dan tak berdaya. Kaki sudah gatal melangkah tetapi tembok didepan menghalangi dengan kejamnya. Andaikan aku memiliki kendaraan disini mungkin aku akan lebih menikmati tinggal disini. Mungkin. Aku tidak mengatakan aku tak suka tinggal disini, tetapi aku tak suka dengan ketidakberdayaanku selama disini.

Aku rindu kamarku. Rindu rumahku. Rindu makanan kesukaanku. Disini memang aku dimudahkan dalam jaminan makan teratur dan tempat-tempat indah yang dapat dikunjungi. Tetapi banyak pula hal yang tidak dapat kutemui disini, salah satunya tentu saja kemudahan transportasi umum yang dapat ditemui hingga larut malam, bahkan 24 jam. Itulah uniknya manusia. Dari sana ingin segera ksini, setelah disini ingin segera kembali. I love my house. Rumahku memang istanaku yang kucinta

My Lovely Sarong

SARUNG. Kemanapun aku pergi untuk menginap tak pernah aku lupa membawa kain sarung tersayangku karena aku akan kesulian tidur tanpa kain sarungku. Kain ini tidak harus dipakai, terkadang hanya untuk kupegang saja. Mungkin banyak yang berfikir mengapa begitu repot membawa kain sarung padahal dimanapun atau dirumah manapun kita bisa mendapatkan kain sarung.

Sarungku bukanlah sembarang kain sarung, karena sekarang ini aku agak kesulitan menemukan kain sarung semacam yang aku punya. Kain-kain sarungku semuanya bertekstur licin. Memang banyak kain sarung licin diluaran, tetapi tidak selicin dan sedingin kain sarungku.

Aku memiliki 4 buah kain sarung yang kukumpulkan sejak aku kuliah dulu, yaitu sejak tahun 1999. Awalnya aku hanya memiliki satu buah kain sarung, akan tetapi kain itu akhirnya sobek karena lapuk akibat sering kucuci dan kupegang. Karena aku belum mendapatkan gantinya aku membagi 2 kain sarung itu dan tetap memakainya.

Kain sarung kedua aku dapatkan dari pacarku dulu, yang sekarang sudah menjadi mantan pacar. Secara tak sengaja, ketika aku ketempatnya aku menemukan kain sarung miliknya yang bertekstur licin. Tanpa ragu aku meminta kain sarung yang kemudian menjadi kain sarung tersayangku, yang setia menemaniku kemanapun aku pergi itu. Kain sarung ini sudah melanglang buana termasuk pergi ke Australia loh, thank you to my ex boyfriend.

Kain sarung ketiga dan keempat aku dapatkan dari pamanku. Kain-kain sarung itu aku simpan di Bekasi dan di Cirebon, jadi jika aku pergi ke kedua tempat itu aku tak perlu membawa kain sarungku. Praktis.  Sekarangpun, ketika aku menulis cerita ini aku membentangkan kain sarung ini dikursi dan aku duduk diatas kain sarungnya. I Love my Sarong.

KIWIL NUSRA

Tanggal 15 Juli 2010 yang lalu KIBI wilayah NUSRA telah dibuka. Kursus yang akan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan ini dibuka langsung oleh Kapusdiklat Bahasa Badiklat Kemhan. Bertempatkan di Rindam Tabanan Bali, kursus ini diikuti oleh 28 peserta yang terdiri dari 14 siswa elementary  dan 14 siswa pre-elementary.

Sebagai tim pengajar, saya bersama 2 rekan saya yaitu Ms. Ayu Bulan dan Ms. Lita R.E, telah tiba di Bali pada tanggal 13 Juli. Berbekal referensi dari rekan-rekan yang telah terlebih dahulu mengajar di wilayah Nusra, kami datang dengan segala perlengkapan korvei, akan tetapi ternyata disini kami ditempatkan di tempat yang berbeda dengan pendahulu kami. Bersih dan nyaman.

Ini adalah kali pertama saya mengajar diluar kantor (wilayah). Dengan segala kemudahan yang saya dapatkan dikantor, saya memerlukan waktu untuk mengatasi shock akan keterbatasan fasdik disini. Rasanya ingin membawa semua fasdik yang saya miliki dikantor dan dirumah, akan tetapi karena pertimbangan jarak yang harus saya tempuh dan beban yang harus saya bawa, akhirnya saya hanya membawa  keperluan yang sangat penting dan cukup ringan untuk saya bawa.

Empat bulan bukanlah waktu yang singkat untuk tinggal tinggal diwilayah orang. Walaupun banyak yang beranggapan betapa beruntungnya saya dapat pergi ke Bali dan tinggal disini untuk sekian lama, namun pada kenyataannya tidaklah seindah yang dibayangkan orang. Situasi ini membuat saya menyadari bahwa seenak-enaknya tinggal dinegeri orang lebih enak tinggal dinegeri sendiri. Yah pada akhirnya hanya diri kita yang menentukan akan dibuat seperti apa suasana disini. Tetunya prinsip “ENJOY AJA” benar-benar harus dikedepankan. Let’s enjoy our duty….

ASIN

Do you know what Asin is? Asin is the shortening of Assistant Instructor. A friend of mine abbreviatted it to make the situation lighter and cheerful. The first time I heard this abbreviation I couldn’t bear myself to laugh, yet we call ourselves this silly abbreviation. Yes it is silly, because in Indonesian ASIN means salty.

Starting from today, March 11th 2010, I and my three other friends begin to observe another English instructor. We have to observe how to start and deliver the lesson in order to strengthen our skill in teaching English. Feel likes i’ve been brought to the time when I joint DIBI, because before teaching practice, we had to observe the real teacher first for us to get used to with the situation of the class and adopt the method.

This is the second time for me to be an ASIN. The first observation was when I just joint Russian department as a Russian instructor. I was taught how to deliver basic Russian lesson and how to behave in front of the class facing adult students, however the method was different with what I’ve got from DIBI class.  Maybe all the differences are because the level of the students, even so, I combine all the method I’ve got to teach both language, Russian and English.

Sometimes to be an observer or being observed has it own tense. For the observers, the longer period of the observation the more boredom it would be, on the other hand, for those whose been observed, they might feel a bit inconvenient and being restrained. Above all, there are a lot of benefits for both, observers and instructors, for instance, enhancing teaching skill and learning the language itself, however the advantages of both sides are possibly different one from another, which depend on their perspectives.

Menjadi Motoris

Setelah berbagai pertimbangan dan efisiensi waktu, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi motoris selama sebulan ini. Bermodalkan motor pinjaman, dimulailah perjalanan yang menegangkan dari Bekasi ke Slipi. Ini adalah perjalanan terjauh saya. Bayangkan, saya yang bisanya takut mengendarai motor, pun di wilayah sekitar Bekasi, harus mengendarai motor dari Bekasi ke Slipi pada malam hari seusai hujan pula. Fiuuuhhhhh takut sekali. Bismillah…  akhirnya sampai juga dengan selamat. Pegal-pegal dan masuk angin deh, tapi tiba dengan selamat. Tantangan pertama dapat dilapaui dengan baik.

Alasan di balik keputusan untuk meminjam dan mengendarai motor ini  adalah karena saya mengikuti kursus yang dilaksanakan di bilangan Kuningan. Kuningan terletak tidak jauh dari slipi, akan tetapi tidak ada kendaraan umum yang langsung menuju ke Kuningan ini, kecuali taksi dan ojek tentunya. Saya harus berganti 3 kali naik kendaraan umum untuk menuju ke tempat kursus ini. Sangat tidak efisien dan menghabiskan banyak waktu dan ongkos. Sebetulnya ada alternatif lain untuk mencapai kursus ini, yaitu menumpang motor teman,  tetapi artinya saya harus bergantung pada teman serta harus pulang dan pergi pada waktu yang sama dengannya. Saya kurang suka tergantung pada orang lain, jika saya bisa mengusahakannya sendiri tanpa bantuan orang lain, mengapa harus menggantungkan diri pada orang lain?

Pada hari pertama saya pergi dan pulang dengan bimbingan teman. Pada hari ke dua, saya mencoba memberanikan diri untuk pulang sendiri. Sehubungan dengan jalan yang dipilih cukup berliku, saya salah mengambil arah dan tersesat. Entah mengapa, saya tidak merasa panik. Dengan tenang saya menyusuri jalan sambil memperhatikan rambu arah jalan, dan viola, saya menemukan jalan yang biasa kami lalui. Memang agak berputar, tetapi jalanan yang saya lalui tidak terlalu ramai bahkan lengang untuk ukuran jalanan di jakarta. Mungkin itu juga yang menenangkan saya ya? Mengapa saya sering tersesat saat pertama melakukan berbagai hal diwilayah baru ya? Doh

Kursus  ini memberi tiga keuntungan pada saya. Pertama saya bisa menambah kemampuan bahasa Inggris saya, lalu membuat saya  berani mengendarai motor di wilayah Jakarta yang crowded ini, dan tentu saja saya bisa bangun agak siang.  Keuntungan kedua inilah yang membuat saya bangga pada diri sendiri. Mungkin cukup aneh bagi para motoris yang lain untuk berbangga hanya karena dapat mengendarai motor di wilayah Jakarta, tetapi bagi saya, yang memiliki mapping yang kurang bagus plus penakut, hal ini cukup membanggakan loh. How about you, the new motorist?