PENGEMIS

Apakah anda menyadari bahwa pengemis di Ibu Kota dan sejumlah kota-kota besar lainnya seperti Surabaya dan Batam semakin bertambah banyak? Dan penahkah anda mengamati bahwa setiap bulan Ramadhan dan Idul Fitri jumlah pengemis seakan berlipat ganda? Dan apakah anda pernah mempertimbangkan atau berfikir mengapa jumlah pengemis semakin bertambah?

Jumlah pengemis di kota-kota besar semakin bertambah. Kondisi fisik yang cacat, ketidak mampuan bekerja dan susahnya mencari kerja lain membuatmereka lama-lama menikmati profesi sebagai pengemis. Yup, profesi. Saat ini mengemis sudah dijadikan pilihan profesi. Tak perlu pendidikan tinggi dan atau gelar yang tinggi. Hanya dibutuhkan dua modal, yaitu tampang menghiba dan pakaian kumal uangpun berdatangan.

Penghasilan yang lumayan jumlahnya membuat si pengemis enggan berpindah profesi, lebih jauh mereka mengajak teman-teman sekampungnya untuk mengikuti jejaknya menjadi pengemis. Bayangkan, seorang pengemis dapat menghasilkan 1 juta rupiah perbulannya, sedangkan untuk seorang koordinator pengemis yang beranggotakan 30-54 dapat meraup penghasilan bersih 6 hingga 9 juta. Jumlah yang sangat fantastis bukan? Ditambah, sekarang ini kebanyakan orang memberi minimal Rp 500 kepada pengemis, bisa dikalkulasikan berapa pendapatan perhari mereka. Anda tertarik berpindah PROFESI menjadi pengemis?

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Begitu pula dengan para pengemis. Bulan Ramadhan dan Idul Fitri merupakan bulan dan momen yang sangat ditunggu oleh mereka. Memanfaatkan momen dmana dibulan suci ini umat muslim berlomba-lomba beramal, mereka seolah-olah bermunculan dimana-mana, mencari sedekah meminta belas kasihan orang-orang yang dianggap mampu. Para pengemis musiman ini bukannya bermunculan begitu saja, melainkan didistribusikan oleh sejumlah koordinator pengemis dari daerah-daerah tertentu seperti bribes, tegal, dll. Mereka diangkut truk untuk kemudian diturunkan diposko-posko tertentu. Jaringan yang rapih inilah yang membuat pemerintah kesulitan untuk menertibkan para pengemis di kota-kota besar terutama di Ibu Kota.

Kampung pengemis. Di beberapa daerah seperti Bandung dan Depok terdapat suatu perkampungan pengemis. Para pengemis itu tinggal di petak-petak yang disewakan penduduk setempat dengan harga sewa yang bervariasi. Dan dapat terlihat bahwa tidak selamanya pengemis itu orang miskin. Banyak diantara mereka yang memiliki peralatan elektronik yang harganya cukup mahal. Dan walaupun mereka terlihat ‘tidak bermateri’, beberapa diantaranya memiliki rumah, sawah, juga ternak dikampung halamannya. Sungguh ironi, karena mungkin si penerima sedekah lebih kaya dari pada si pemberi sedekah.

Saya pernah membaca suatu papan iklan di Bandung yang berbunyi ” Pemberian Anda Menyengsarakan Mereka”. Dengan gambar seseorang yang sedang mengulurkan tangannya pada pengemis, tak perlu diragukan lagi bahwa iklan ini menghimbau untuk tidak memberi sedekah. Akan tetapi, mengingat budaya masyarakat Indonesia yang “tidaktegaan’ melihat wajah yang memelas, maka kegiatan memberi sedekah tetap berlangsing. Mengingat hal ini, jelas terlihat bahwa pengemis ada karena ada yang memberi. Nah, apakah anda orang yang jeli dalam melihat pengemis asli atau si pemalas? Dan tentu saja semuanya berpulang kepada diri anda sendiri, karena pemerintahpun tidak mungkin mendenda orang yang ingin bersedekah atau beramal.

8 Responses

  1. Bersedekah adalah perbuatan mulia. Lebih mulia pikirkan diri sendiri baru pikirkan orang lain.😀
    maksudnya saat ini saja hidup kita sudah susah (harga melonjak) koq mikirin orang lain. hahaha3X
    kembali ke pengemis. Pengemis saat ini telah menjadi pekerjaan profesional buktinya mereka punya seragam bahkan properti serta memiliki koordinator yaaa semacam EO lah.
    Polisi pun sedang mencari EO pengemis… lho. Mo dikasih sesuatu….
    nah… jadi berpikirlah bila ingin memberi amal atau infaq. Hitungannya sesuai aturan contoh: kita memiliki kekayaan keluarkanlah zakat harta kita. Zakat itulah yang diberikan kepada fakir miskin bukan pengemis (pengemis belum tentu fakir miskin)
    oh… ya. kita pun kalau berkaian lecek, kumel (belum disetrika), atau berpenampilan seperti baru bangun tidur…. hati-hati dan waspada karena bisa disebut pengemis.
    Di Prancis, ada juga pengemis. Mereka hanya minta-minta dengan alasan tidak mampu memberi makan piaraannya (anjiiing/kuciiing). Saya tahu, setelah saya menawarkan roti kepadanya dan dia menolak dengan jawabnya : “anjingku tidak suka itu”. Jawaban Politis memang… tapi itulah kenyataannya bahwa orang Prancis malu bila disebut pengemis, sedangkan orang Indonesia ….udah putus kali urat malunya 😀
    semoga Indonesia menjadi bangsa lebih beradab dan menghargai dirinya bukan menjadi bangsa pengemis…
    ya Allah kabulkan lah doa kami, aamiiin.
    salam
    octa

  2. aaamiiiiin…

  3. Amiiin juga, kan malu. Apalagi kadang para pengemis itu suka maksa. Ngeliat turis asing di daerah pariwisata langsung serbu kg kata2 ‘ kasih bu… kasih paaak’. Itu mah sama aja dengan ngusir orang karena ketidaknyamanan dalam berwisata

  4. Menurut gue, lumayan cape jg pemerintah ngejar2 atau nangkepin pengemis atau ngedenda yang memberi sedekah ke pengemis. Profesi pengemis itu menandakan manusia yang ga punya harga diri sama sekali dan benar2 pemalas sejati. Emang tampak kejam kalo pas ketemu pengemis dg penampilan menggenaskan kita ga mau kasi even 100perak…eh tp pernah loh gue ktm pengemis dikasi uang 50perak dia ngambek, iih males bgt ga seh org kaya gitu, udah utg jg org mau ngasi, biar 50perak jg itu tetap uang X(

  5. Memang, tp kadang2 suka telat jg yen, selagi sedikit ga segara diambil tindakan. Sedangkan klo ngambil tindakan setelah banyak pasti menimbulkan keributan.

    Yup betul, para pengemis itu milah2, uang yg 5o perak mereka buangin, soalnya warung jarang yg nerima uang 50 perak. Klo menurut hematku, lebih baik pemerintah ga perlu memproduksi uang 50 rupiah lg, kurang guna.

  6. Zakat terutama untuk fakir miskin, pengemis, gelandangan, yang terlilit hutang, ditambah infaq dan sodaqoh, yang semuanya itu bisa diberdayakan untuk mengatasi pengangguran, dan membuka lapangan kerja/usaha, tapi pengelolaannya kurang tepat, sehingga jumlah orang miskin (di Indonesia) bertambah. Tidak ada instansi yang benar-benar menanganinya, tapi yang meninggal (mungkin) karena rebutan zakat ada.(sepertinya setiap tahun)

  7. orang yang minta adalah orang yang butuh…kita orang yang punya apa salahnya memberi tanpa brpikir negatif kepada si peminta. kan tangan yang di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah. kitaa harus berfikir mungkin rizqi si peminta itu melalui tangan kita. bersedekahlah…

  8. Memang betul, orang yang minta ya orang yang butuh pastinya, tapi bila artikel tadi dibaca dengan lebih teliti, pendapatan si peminta bisa lebih besar dari pada si pemberi.

    Memang disatu sisi, pahala yang didapat juga besar dengan mengulurkan tangan kepada si peminta dengan hati ikhlas dan tanpa prasangka. Akan tetapi dari sisi lain beberapa okum memanfaatkan itu untuk keuntungan diri sendiri dengan menjadikan mengemis sebagai profesinya.

    yaah ujung-ujungnya semua kembali kepada diri sendiri seeehhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: