Otot Vs Otak

Balakangan ini disemua media cetak diberitakan tentang peperangan yang merenggut ratusan bahkan ribuan orang yang tak berdosa. Perang otot yang dikombinasikan dengan perang otak menghasilkan peperangan dengan menggunakan rudal dan sejenisnya.

Jauh dari itu, jauh dari peperangan, jauh dari tumpahan darah dan air mata, pertempuran yang melibatkan otot dan otak terjadi kapan saja dan dimana saja. Sebagai contoh ditempat kerja. Ada yang bekerja dengan otot  dan ada juga yang bekerja dengan menggunakan otak.

Orang yang hanya bekerja dengan menggunakan otot dan kebetulan tidak menajamkan kemampuan otaknya biasanya berakhir disuatu tempat dengan luapan pekerjaan berat dengan penghasilan yang relatif kecil. Biasanya penghasilannya ditentukan dengan seberapa kuat ia dan juga tergantung musimnya. Ketika terjadi suatu musibah yang berhubungan dengan fisiknya ia tak dapat berbuat apa-apa, dan penghasilan yang sudah minimal semakin mengecil.

Sebaliknya, orang yang hanya bekerja dengan menggunakan otaknya saja tanpa memperdulikan kekuatan ototnya biasanya berakhir di rumah sakit. Mengapa dikatakan demikian? Biasanya orang yang bekerja dengan menggunakan otaknya akan terikat dikursinya selama berjam-jam yang mengakibatkan keengganan berolah otot. Penghasilan yang relatif besar membuat pekerja jenis ini menggampangkan urusan otot dengan alasan dia dapat membayar biaya dokter untuk mengobati penyakitnya. Penghasilan yang melimpah membuat ia juga lupa mengatur pola makannya. Hidangan mewah = hidangan bergizi. Begitulah pandangan sebagian orang yang berpenghasilan relatif tinggi. Faktor ini pula yang mendorong pekerja jenis ini berakhir di rumah sakit. Setelah tak berdaya didalam pengawasan dokter di rumah sakit, kesadaran menyelinap akan keseimbangan otak dan otot.

Terkadang terlontar dari para pekerja otot bahwa mereka sangat lelah tetapi tetap berada digaris kemiskinan, sedangkan mereka yang hanya duduk-duduk santai  saja mendapatkan penghasilan yang jauh diatas mereka. Benarkah demikian? Memang terlihat santai dan tak melelahkan, akan tetapi pekerja otot tidak menyadari bahwa bekerja dengan otak dapat mengakibatkan kelelahan “luar dalam”, sedangkan bekerja dengan otot hanya mengakibatkan kelelahan luar saja. Sejalan dengan akibat yang didapat, penyakit pekerja otot relatif lebih ringan dibanding pekerja otak yang dapat membuat si penderita kehilangan apa yang telah ia dapat selama bekerja.

Idealnya  manusia bekerja dengan menggunakan otak sekaligus ototnya. Bekerja hanya dengan menggandalkan otak sedangkan ototnya lemah akan mengurangi ruang geraknya, sedangkan sebaliknya bekerja hanya mengandalkan otot akan menciptakan dinding tebal nan tinggi yang membatasi lingkup kerjanya. Nah pekerja tipe manakah anda? Hanya anda sendiri yang dapat menjawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: