Paket Perjalanan Pertama

Dari judulnya mungkin ada yang bertanya-tanya apa maksud dari judul di atas. Apakah bercerita tentang pertama kali ke tempat yang dituju? Apakah pertama kali ke tempa yang dituju dengan menggunakan jasa biro pariwisata? Atau bahkan apakah ini pertama kalinya jalan-jalan? Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di atas ada benarnya, karena ini merupakan pengalaman pertama saya ke tempat yang dituju dengan menggunakan alat transportasi yang sama sekali baru bagi saya (tidak familier).

9 maret 2007 merupakan tanggal yang pemuh momentum bagi saya. Hari itu adalah hari keberangkatan saya menuju Negeri Kanguru Australia guna mengikuti kursus di sana. Dalam perjalanan menuju bandara, tiba-tiba saya menyadari bahwa ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di bandara. Sontak semua anggota keluarga yang mengantar keberangkatan saya terbahak-bahak. Bagaimana mungkin dengan seringnya mobidi bandaralitas anggota keluarga yang lain pergi dan pulang dengan menggunakan transportasi udara, saya bahkan belum pernah tahu bagaimana bentuk bandara Soekarno-Hatta itu? Bahkankeponakan saya yang masih berusia beberapa bulanpun sudah sering bepergian naik pesawat. Duuh malu. Tapi untuk menutupi rasa malu, dengan PeDe saya mengatakan, “biar saja, walau ini pertama kali saya ke bandara tapi kan langsung terbang jauh”, asyik kaaan. Satu hal yang masih saya ingat, ketika di bandara saya sempat diomeli oleh petugas karena tidak membawa tiket ketika saya keluar untuk berpamitan pada keluarga. Dengan enteng saya bilang lupa, pahahal ga mudeng. Paraaah.

Berhubung ini kali pertama saya ke bandara, sudah dapat di pastikan bahwa ini juga merupakan kesempatan pertama saya bepergian dengan pesawat. Saya bertanya-tanya bagaimana rasanya terbang? Bagaimana apabila pesawatnya jatuh? Bagaimana apabila roda pesawat tidak mau bergerak ketika hendak landing? “Parno”. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan berbagai pertanyaan konyol yang muncul di benak saya. Makluum, pertama kali gituloh. Namun, dengan berbekal referensi yang mengatakan bahwa guncangan mungkin timbul hanya ketika take off, landing, dan apabila ada turbulensi, dengan H2C saya bersama teman seperjuangan, Enno, (yang juga baru pertama naik pesawat) berjalan dengan di PeDe-PeDekan masuk ke Pesawat. Tentu saja untuk mengabadikan peristiwa bersejarah itu kami foto-foto, dari pada sibuk memikirkan bagaimana ini bagaimana itu. Akhirnya tiba waktu pesawat berangkat. Daaannn…. Voilaaa… ternyata eh ternyata biasa aja tuh, dan berhubung saya tidak pernah naik pesawat domestic jadi tidak bisa membandingkannya, begitu pula ketika mendarat, mulus-mulus saja. Alhamdulillah, penerbangan pertama berjalan dengan baik. Aku selamat.. huooo huoooow… mengharukan…

Pertanyaan berikutnya muncul ketika hendak mendarat di Sydney. Saya bertanya-tanya (duh mengapa kepala saya selalu dipenuhi pertanyaan ya?) Bagaimana sih Australia itu? Bagaimana dengan orange-orangnya? Bagaimana peraturannya? Kira-kira saya bisa survive tidak hidup di sini? Dengan melewati pemandangan yang luar biasa saya mendarat di Sydney yang kemudian melanjutkan penerbangan ke Melbourne dengan menggunakan pesawat yang lebih kecil. Berhubung saya tidak duduk disamping jendela saya tidak bisa menikmati pemandangan. Sesampainya di Melbourne dan setelah bertemu dengan petugas yang yang akan membawa kami ke DITC, kami keluar bandara, dan terbentanglah pemandangan kota Melbourne. Satu kata yang langsung terlintas di benak saya yaitu PANAS. Udara disana bahkan melebihi panasnya Jakarta, hanya bedanya disana kita tidak berkeringat yang bertolak belakang dengan di Indonesia, mandi keringat.

3,5 bulan berlalu dengan ceria dan penuh cerita. Saya dapat beradaptasi dengan baik dengan hanya mengalami sedikit sekali shock culture. Sungguh-sungguh menikmati pengalaman hidup di negeri orang. Waktu seolah berlalu dengan sangat cepat saat tibanya hari kepulangan ke Indonesia. Berat hati meninggalkan dan rindu dengan hiruk pikunya kota Jakarta berbaur. Andaikan bisa, saya hanya pulang ke Jakarta hanya untuk berlibur kemudian kembali lagi ke Australia. Yaaah tentunya boleh dong berandai-andai, siapa tau jadi kenyataan, senyata mimpi saya untuk pergi ke Luar Negeri. But, overall, be wise with your wish, maybe your wish comes to be true. Toe-tea

2 Responses

  1. Ya ampyun tutii ceritamu menarik sekali..

    Jadi pengen berbagi pengalaman. Inget nggak waktu kita sampai di bandara Sydney untuk pertama kalinya? Waktu mau check in di imigrasi lewat pintu sensor, aku harus bolak balik berkali-kali karena pintunya bunyi terus.

    Jam tangan dilepas, masih bunyi. Ikat pinggang dilepas, masih bunyi. Jepit rambut dilepas, masih bunyi. Terakhir, sepatu dilepas, masih bunyi juga. Sampai periksa pake tongkat sensor juga. Petugasnya bingung trus bilang “what happen with you, girl?” trus aku jawab “I don’t know”. Sambil pasang wajah ketakutan karena memang bener2 takut.

    Panik banget karena waktunya mepet. Trus selesai itu aku harus menjalani pemeriksaan anti teroris, periksa sidik jari, diperiksa bajunya juga, padahal tuti nggak. Sediih dan takuut, sempet kepikiran, apa tampang saya tampang teroris ya? Trus kita lari ke pesawat berikutnya jurusan Melbourne. Sampe di pesawat, baru duduk sebentar aku baru inget, HP ku ketinggalan di imigrasi. Hiks hiks langsung lari lagi keluar pesawat minta sama petugasnya jangan ditinggal.

    Padahal bahasa Inggris juga masih terbata-bata. Susah banget mau ngomong bahasa Inggris, tapi harus.

    Setelah ditanya2 sama petugas imigrasi dan mengisi berita kehilangan, akhirnya dapet juga HP nya. Lari lagi ke gate 2, eh nyasar dulu ke gate 1 yang pesawatnya baru aja take off. Hampir nangis karena mengira udah ditinggal pesawat. Tapi tetap berlagak tenang trus ke meja informasi, baru tau deh kalo salah gate. Hiks hiks capee bangeetttt…….!!

    Gak bakal lupa deh..
    What a nice experience for me and for you, for both of us deh🙂

  2. Waaa… bener banget no… jadi anget lagi…

    Penerbangan2 kita menyisakan banyak cerita ya, belum lagi peristiwa lari-lari karena telat datang ke Bandara karena terlambat berangkat dari DITCnya. Dengan bawaan yang lumayan banyak menimbang bagasi yang bahkan ada yang kelebihan bagasi, dengan adanya ibu hamil, dengan adanya anak kecil, kita harus lari-lari ngejar pesawat yang dah setengah jam nungguin kita2 yang dari indonesia. Ingatkan sesampainya di pesawat semua penumpang ngeliatin kita yang kemringet ga jelas gitu deh.

    Apalagi sesampainya di Indonesia, setelah menunggu di tempat pengambilan bagasi ternyata bagasi kita nggak ada. Waaaa puanik banget kita semua. Ternyata eh ternyata itu bagasi masih ada di Melbourne hehehe… Bersambung keesokan harinya bagasi kita ketuker lagi, punyamu dibawa ke bekasi, punyaku dibawa ke Depok. Cape deeehhh

    Momen yang sangat berharga untuk dilupakan hehehe
    Hopefully one day we can go abroad together again? Is that possible???? =P~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: